Pendidikan Dihargai Mahal dan Tidak Dihargai Keberadaanya


Suatu ketika saya pernah ditanya oleh seorang teman mengenai pilihan saya setelah lulus kuliah S1. Karena dari dulu saya bercita-cita menjadi dosen, maka saya putuskan untuk lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bukan hal yang mudah membuat pilihan semacam ini. Banyak orang menganggap bahwa pilihan untuk kuliah lagi apalagi dengan umur saya yang masih muda ini adalah hal yang ‘buang-buang waktu, menghabiskan banyak uang, dan tidak menjadi ukuran kesuksesan’. Saya mengakui bahwa pendidikan itu mahal, pendidikan banyak menghabiskan banyak uang, dan juga menghabiskan banyak waktu dan energi; tetapi orang terkadang tidak melihat kondisi, situasi, dan apa yang dibutuhkan oleh saya. Orang memberikan tanggapan atas cerminan diri sendiri dan hal itu banyak terjadi di masyarakat. Maka dapat saya katakan di sini bahwa “Pendidikan dihargai mahal tetapi tidak dihargai keberadaannya”

Jenjang pendidikan yang lebih tinggi mungkin kurang menarik bagi banyak orang terutama para pencari nafkah. Hanya dengan mengandalkan skill dan kemampuan yang dimiliki, kebanyakan orang akan memilih bekerja mencari nafkah daripada kuliah lagi. Namun bagaimana dengan yang bercita-cita menjadi dosen seperti saya ini? Apakah gelar kesarjanaan cukup untuk mengabdikan diri pada Tri Darma? Hal ini mustahil. Gaji yang kecil, pekerjaan yang berat, dan pengabdian yang total harus dilakukan untuk menjadi seorang dosen. Syarat yang cukup berat pun menjadikan lapangan pekerjaan ini jarang diminati oleh masyarakat. Di samping uang yang keluar untuk membiayai S2 mahal ditambah gaji yang minim wajarlah orang enggan melamar pekerjaan lapangan ini. Sayang seribu sayang, Indonesia memang kurang mampu menghargai pendidikan khususnya gaji untuk para pendidik yang juga telah banyak menguras tenaga, uang, dan intelektualitasnya untuk menjadi seorang pendidik sejati. Keberadaannya tidak dihargai dengan pantas, walaupun ada juga orang yang dengan tulus mengabdikan dirinya menjadi pendidik tanpa imbalan maupun tanda jasa.

Saya hanya menduga, apa jadinya bila pendidikan di Indonesia bisa lebih dihargai keberadaannya? Saya bisa membayangkan banyaknya pelamar di sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan lain. Lebih hebatnya lagi, saya bisa membayangkan Indonesia menjadi negara dengan sumber daya manusia yang berpotensi mengharumkan nama bangsa ini dengan intelektualitasnya. Semoga saja pendidikan di Indonesia ini dapt lebih dihargai, bagaimana caranya? Kembali ke diri Anda masing-masing.

Categories: Sharing | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: