Studi Peristiwa (Event Study) Penawaran Saham Perdana PT. Garuda Indonesia


“Sahamku tak sekokoh sayapku”

Penawaran saham perdana yang dilakukan oleh PT Garuda Indonesia Airlines nampaknya tidak sesukses apa yang diinginkannya. Banyak investor yang kecewa dengan peristiwa ini. Apakah yang menyebabkan kegagalan ini? Perusahaan? Underwriter? Kesalahan prosedur? Kesalahan estimasi? Berikut ini saya dan kedua teman saya berusaha untuk melakukan studi peristiwa dari peristiwa ini. Semoga bermanfaat.

Latar Belakang Masalah

Pasar modal Indonesia saat ini sedang berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan teknologi. Teknologi yang semakin pesat ini ditandai dengan mulai dipakainya system online di bursa saham. Hal ini mengakibatkan bursa saham dapat lebih luas dalam menjaring investor baik investor lokal maupun dalam negeri.  Perkembangan ini memicu banyaknya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk go public. Salah satunya contohnya adalah PT. Krakatau Steel yang melakukan penawaran saham perdana. Pada saat itu PT. Krakatau Steel berhasil melakukan penawaran saham perdananya November 2010 lalu, dengan harga jual saham perlembar pada saat itu sebesar Rp 850. Harga saham PT. Krakatau Steel yang relatif murah, kinerja perusahaan yang cukup baik, dan adanya peningkatan minat masyarakat terhadap saham di industri pertambangan membuat PT Krakatau Steel menuai keberhasilan penawaran perdananya.

Keberhasilan penawaran saham perdana PT. Krakatau Steel mendorong perusahaan BUMN lain, yaitu Garuda Indonesia untuk melakukan saham perdananya. Pada awalnya, Garuda Indonesa telah memiliki rencana untuk go public, namun rencana itu tertunda karena berbagai kendala. Tetapi kendala tersebut tidak mengurungkan niat Garuda Indonesia untuk melakukan penawaran saham perdana, terutama setelah melihat keberhasilan dari PT. Krakatau Steel.

Setelah banyaknya isu dan kontroversi dalam penerbitan saham perdananya, akhirnya pada tanggal 11 Februari 2011 PT Garuda Indonesia menerbitkan saham perdananya dengan harga jual saham per lembar yang ditetapkan oleh Kementrian Badan Usaha Milik Negara (Kementrian BUMN) sebesar Rp750. Proses penawaran saham ini dipegang oleh 3 underwriter yaitu dari PT. Mandiri Sekuritas, PT. Bahana Sekuritas, dan PT. Dara Reksa yang merupakan perusahaan yang memiliki kredibilitas tinggi dan kepercayaan dari masyarakat.  Harga saham perdana PT Garuda Indonesia ini mengambil harga terendah dari yang ditawarkan yaitu Rp 750- Rp 1.100. Para pengamat dan masyarakat menganggap bahwa harga jual saham perdana PT Garuda Indonesia ini mahal. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan membahas lebih lanjut mengenai permasalahan-permasalahan yang dihadapi PT. Garuda Indonesia dalam menerbitkan penawaran saham perdananya.

PENAWARAN SAHAM PERDANA PT GARUDA INDONESIA

Pengertian Initial Public Offering (IPO)

Sebuah perusahaan yang akan go public dimana perusahaan tersebut melakukan initial public offering (IPO) sahamnya melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi dan melalui agen-agen penjual yang ditunjuk.  IPO adalah kegiatan penawaran efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat (publik) melalui pasar modal. Investor bisa melakukan pembelian dengan memesan melalui penjamin emisi ataupun agen penjual.  Pada umumnya, jumlah saham yang didapatkan biasanya cenderung lebih sedikit dari pesanan.  Hal ini karena minat investor untuk membeli saham saat IPO biasanya sangat besar sehingga dilakukan penjatahan.

Proses Initial Public Offering (IPO)

Di Indonesia, prosedur sebuah perusahaan untuk go public mengikuti tiga tahapan utama yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal- LK (BAPEPAM-LK).  Tahap pertama adalah persiapan diri, kemudian tahap kedua adalah memperoleh ijin registrasi dari BAPEPAM-LK, dan ketiga adalah melakukan penawaran perdana ke publik dan memasuki pasar sekunder dengan mencatatkan efeknya di bursa.

Persiapan Untuk Going Public

Secara garis besar, persiapan yang harus dilakukan adalah:

  1. Rencana go public harus dibawa dan disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
  2. Perusahaan menyediakan pakar-pakar pasar modal dan institusi-institusi pendukung untuk membantu  penyediaan dokumen-dokumen yang dibutuhkan, yaitu:
  •  Underwriter (penjamin emisi) yang akan mempersiapkan segala sesuatunya berkaitan dengan proses penempatan saham di pasar primer.
  • Profesi-profesi yang terdiri dari: kantor akuntan publik yang independen untuk mengaudit laporan keuangan selama dua tahun terakhir dengan pendapat unqualified opinion, notaris publik yang akan mempersiapkan dokumen persetujuan dari pemegang sahamdan persetujuan lainnya yang berkaitan dengan going public dan hasil dari rapat-rapat yang dilakukan, konsultan hukum untuk menyediakan opini-opini yang berhubungan dengan hukum, dan perusahaan penilai (appraisal company) yang akan menilai kembali (jika diperlukan) aktiva-aktiva yang dimiliki oleh perusahaan.
  •  Institusi-institusi pendukung: trustee, penjamin (guarantor), Biro Administrasi Sekuritas, dan kustodian.
  1. Mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan untuk penawaran ke publik.
  2. Mempersiapkan kontrak awal dengan bursa.
  3. Mengumumkan ke publik.
  4. Menandatangani perjanjian-perjanjian yang berhubungan dengan going public.
  5. Untuk yang akan menjual obligasi, perusahaan harus mendaftarkannya ke agen peringkat untuk mendapatkan peringkat untuk obligasi yang ditawarkan.  Agen peringkat yang ditunjuk adalah PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) yang didirikan pada tanggal 21 Desember 1993.
  6. Mengirimkan pernyataan registrasi dan dokumen-dokumen pendukung lainnya ke BAPEPAM-LK.

Registrasi di BAPEPAM

Setelah semua dokumen masuk ke BAPEPAM, maka BAPEPAM melakukan sebagai berikut:

  1. Menerima pernyataan registrasi dan dokumen-dokumen pendukung dari perusahaan yang akan going public dan dari underwriter.
  2. Pengumuman terbatas di BAPEPAM-LK
  3. Mempelajari dokumen-dokumen yang diperlukan.
  4. Deklarasi pernyataan registrasi efektif berlaku yang didasarkan pada tiga hal utama, yaitu kelengkapan dokumen, kebenaran dan kejelasan informasi dan pengungkapan (disclosure) tentang aspek-aspek legalitas, akuntansi, keuangan dan manajemen.  Jika selama 30 hari BAPEPAM tidak memberi jawaban, maka pernyataan registrasi otomatis efektif.

Pencatatan di Bursa

Setelah BAPEPAM-LK mendeklarasikan keefektifan dari pernyataan registrasi, selanjutnya underwriter dapat menjual saham perdana tersebut di pasar primer.  Setelah penawaran perdana selesai, emiten (perusahaan yang going public) dapat melakukan proses-proses berikut ini untuk mencantumkan sahamnya di pasar sekunder (bursa).

  1. Emiten mengisi dan menyerahkan aplikasi yang formulirnya disediakan oleh BEI untuk permintaan mencantumkan sahamnya di bursa efek.
  2. BEI akan mengevaluasi aplikasi ini berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan.
  3. Jika aplikasi ini memenuhi kriteria yang disyaratkan, BEI akan menyetujuinya.
  4. Emiten kemudian harus membayar biaya jasa pencantuman (listing fee).  Biaya jasa pencantuman terdiri dari dua macam, yaitu biaya jasa pencantuman awal (initial listing fee) dan biaya jasa pencantuman tahunan (annual listing fee).  Untuk initial listing fee ditentukan sebesar minimum Rp 10 juta dan maksimum Rp 150 juta (jika ada tambahan listing berikutnya dibebankan biaya tambahan sebesar minimum sebesar Rp 1 juta untuk setiap kelipatan Rp 1 milyar dari kapitalisasi pasarnya dengan minimum Rp 10 juta dan maksimum sebesar Rp 150 Juta).  Untuk annual listing fee ditentukan sebesar Rp 500.000,- untuk setiap Rp 1 milyar dari nominal sahamnya, minimum Rp 5 juta dan maksimum Rp 100 juta.
  5. BEI kemudian akan mengumumkan pencantuman dari saham ini.
  6. Saham yang sudah tercantum ini sudah siap untuk diperdagangkan.

Laporan-laporan yang harus dipersiapkan untuk IPO adalah laporan Rutin yang terdiri dari Laporan Keuangan Tahunan, Laporan Keuangan Tengah Tahunan, Laporan Triwulanan, dan Laporan Penggunaan Dana Hasil Emisi; Laporan Berkala yaitu laporan mengenai terjadinya setiap kejadian penting dan relevan; dan Laporan lainnya yang mencakup laporan mengenai perubahan anggran dasar, rencana RUPS/RULB, perubahan susunan direksi dan komisaris, dan mengenai penyimpangan proyeksi yang dipublikasikan lebih dari 10%. Selain itu perusahaan juga mempersiapkan Prospektus. Prospektus adalah suatu bentuk promosi emiten atas perusahaannya.Emiten akan memasukkan ke dalam prospektus informasi-informasi yang relevan dengan bisnis perusahaan sebagaimana yang disyaratkan oleh Bapepam, dengan harapan dapat menarik banyak calon investor.

Penjamin Emisi Efek (Underwriter)

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.8 tahun 1995 tentang pasar Modal, emiten adalah pihak yang melakukan penawaran umum. Sebuah perusahaan yang akan go public di mana perusahaan tersebut melakukan Initial Public Offering (IPO) sahamnya melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi dan melalui agen-agen penjual yang ditunjuk. Penjamin emisi efek adalah pihak yang membuat kontrak dengan Emiten untuk melakukan Penawaran Umum bagi kepentingan bagi kepentingan Emiten dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa Efek yang tidak terjual.

Perusahaan tentunya tidak menginginkan jika dalam pelaksanaan penawaran perdana timbul keraguan, apakah efek yang dilepas ke para investor terjual habis atau tidak, bila setelah dilepas efek tersebut tidak terjual habis, maka ini merupakan “bencana” bagi perusahaan, hal mana selain mengakibatkan kerugian sebab biaya-biaya yang telah dikeluarkan tidak dapat ditarik kembali, juga akan menjatuhkan reputasi perusahaan. Untuk itulah maka diperlukan perusahaan efek yang bertindak sebagai penjamin emisi efek (underwriter) perusahaan, yang umumnya dalam praktek di Indonesia, dalam penawaran umum perdana praktis semua penjaminan emisi di lakukan dengan sistem penjaminan full commitment. Maka peran dan tanggung jawab underwriter dalam perjanjian full commitment di pasar perdana sangatlah penting.

Peran underwriter dimulai sejak hari pertama emiten berniat menawarkan sahamnya kepada masyarakat. Peran underwriter mulai dari membantu emiten menyiapkan penawaran umum, melakukan due diligence, menyiapkan pernyataan pendaftaran, sampai kepada proses penawaran umum perdana. Underwriter dalam perjanjian full commitment bertanggung jawab atas sisa efek yang tidak terjual, sesuai dengan ketentuan dalam kontrak penjaminan emisi efek yang tunduk kepada UUPM dan KUH Perdata.

Adapun kategori penyimpangan oleh underwriter pada proses penawaran umum perdana, antara lain: masalah penjatahan saham yang dapat berakibat pada benturan kepentingan (conflict of interest), manipulasi harga dalam upaya stabilisasi, dan penyimpangan bentuk penjaminan emisi oleh underwriter dan emiten. Akibat hukum yang dikenakan terhadap ketiga kategori penyimpangan ini ditentukan dalam UUPM dan PP No. 45 Tahun 1995, yaitu berupa sanksi administratif dan denda. Mengenai perselisihan antara para pihak dalam perjanjian penjaminan emisi efek, akan diselesaikan secara musyawarah, jika tidak tercapai persesuaian paham, maka diajukan ke Pengadilan Negeri atau diselesaikan melalui Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI).

Profil PT Garuda Indonesia

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (“Perusahaan”) didirikan berdasarkan akta notaris Raden Kadiman No. 137 tanggal 31 Maret 1950. Akta pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam surat keputusannya No.J.A.5/12/10 tanggal 31 Maret 1950 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.30 tanggal 12 Mei 1950, tambahan No.136. Perusahaan yang awalnya berbentuk Perusahaan Negara, berubah menjadi Persero berdasarkan Akta No.8 tanggal 4 Maret 1975 dari Notaris Soeleman Ardjasasmita, S.H., sebagai realisasi Peraturan Pemerintah No.67 tahun 1971. Perubahan ini telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.68 tanggal 26 Agustus 1975.

Anggaran Dasar Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan dan terakhir berdasarkan Akta No.24, tanggal 16 November 2010 dari Fathiah Helmi, SH., Notaris di Jakarta untuk disesuaikan dengan Peraturan Bapepam, antara lain mengenai perubahan status menjadi Perusahaan Terbuka, perubahan nilai nominal saham dan penerbitan Saham Seri A dan Seri B. Akta perubahan ini telah disetujui dan diterima oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. AHU-54724.AH.01.02.Tahun 2010 tanggal 22 November 2010. Tujuan pendirian Perusahaan adalah untuk melaksanakan serta menunjang program Pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya, khususnya di bidang jasa pengangkutan udara dan bidang lainnya yang berhubungan dengan jasa pengangkutan udara.

Perusahaan berkantor pusat di Jl. Kebon Sirih No. 44, Jakarta. Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan terutama adalah sebagai berikut:

  1. Angkutan udara niaga berjadwal untuk penumpang, kargo dan pos dalam negeri dan luar negeri.
  2. Angkutan udara niaga tidak berjadwal untuk penumpang, kargo dan pos dalam negeri dan luar negeri.
  3. Pemeliharaan dan perbaikan pesawat, baik untuk keperluan sendiri maupun untuk pihak ketiga.
  4. Jasa pelayanan penunjang operasional angkutan udara.
  5. Jasa pelayanan sistem informasi yang berkaitan dengan pengangkutan udara.
  6. Jasa konsultasi, pendidikan dan latihan yang berkaitan dengan pengangkutan udara.
  7. Jasa pelayanan kesehatan bagi karyawan Perusahaan maupun untuk pihak ketiga.

Perusahaan mulai beroperasi komersial pada tahun 1950. Jumlah karyawan Perusahaan rata-rata 5.745 karyawan untuk tahun 2010 dan 5.075 karyawan untuk tahun 2009. Susunan pengurus Perusahaan telah ditunjuk berdasarkan akta notaris No. 50 tanggal 7 Agustus 2008 dari Notaris Sutjipto, S.H., M,Kn. di Jakarta, dan telah diubah dengan akta No. 75 tanggal 10 Mei 2010 dari  Sutjipto, S.H., M,Kn. notaris di Jakarta mengenai perpanjangan sementara untuk seluruh pengurus Perusahaan.

Seperti yang telah diuraikan dalam latar belakang, bahwasanya keberhasilan PT Krakatau Steel menerbitkan saham perdananya ke publik memicu PT Garuda Indonesia untuk menerbitkan saham perdananya pula. PT Garuda Indonesia optimis dapat melakukan penawaran saham perdana ke publik kendati perolehan laba semester pertama tahun 2010 menurun. Laba semester I-2010 Garuda sebesar Rp 175 miliar, turun dibanding periode sama tahun lalu sekitar Rp 400 miliar. Penyebab penurunan laba salah satunya karena selisih kurs. Semester pertama 2009 (nilai tukar rupiah terhadap dolar AS) rata-rata Rp 10.000, tahun 2011 sekitar Rp 9.200, bila dikonversi turun 12 persen. Namun, PT Garuda Indonesia optimis bahwa kinerja semester kedua akan lebih baik dibandingkan semester pertama. Hal itu dikarenakan terdapat penambahan 12 pesawat baru, sehingga sepanjang tahun 2010 terdapat penambahan 24 pesawat baru. Dengan adanya pesawat baru itu diharapkan akan meningkatkan efisiensi perusahaan, karena biaya perawatan rendah. Selain itu, pada semester kedua, rute-rute baru yang diluncurkan semester pertama akan memperlihatkan hasilnya. Jika pada Januari 2010 terdapat 7.000 penerbangan per bulan, Juni meningkat menjadi 9.000 penerbangan per bulan. Terdapat tambahan 2.000 penerbangan per bulan. Hal inilah yang menjadi dasar pertimbangan PT Garuda Indonesia untuk menerbitkan saham perdananya.

Kendala-Kendala yang Dihadapi PT Garuda Indonesia dalam Proses Penawaran Saham Perdananya

Penawaran saham perdana PT Garuda Indonesia (Persero) mengalami berbagai kendala. Penawaran perdana yang sebelumnya dijadwalkan akhir 2010 ditunda Februari 2011. Kendala-kendala yang menyebabkannya adalah sebagai berikut:

  1. PT Garuda Indonesia selama ini belum pernah menerbitkan obligasi, sehingga pencatatannya membutuhkan ketelitian ekstra, terutama dalam membuat laporan keuangan. Karena laporan keuangan interim yang menjadi persayaratan penawaran perdana harus lengkap, akurat dan telah diaudit.
  2. PT Garuda Indonesia mempunyai banyak anak perusahaan sehingga pelaporan keuangan konsolidasi harus disusun dengan akurat dan teliti serta wajib diaudit.

Penentuan Harga Saham Perdana PT Garuda Indonesia

Penentuan Harga Saham Perdana dapat dinilai atau diperhitungkan dengan melihat Price Earning Ratio (P/E Ratio) dan EV/EBITDA. P/E mencerminkan besarnya investasi yang diperlukan untuk mendapatkan pendapatan secara relatif terhadap pendapatan tersebut.  Satu faktor terkait yang perlu dicermati adalah kebijakan rasio pembayaran deviden. P/E bisa menjadi acuan dengan membandingkannya terhadap P/E sektor industri tersebut.  P/E yang tinggi mengindikasikan harga saham tersebut mahal, sebaliknya P/E yang rendah mengindikasikan harga saham tersebut murah. Sedangkan EV/EBITDA adalah valuasi perusahaan terhadap laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.

Pemerintah menetapkan harga saham PT Garuda Indonesia dalam penawaran saham perdana sebesar Rp750 per unit. Pemerintah mengambil harga terendah dari yang ditawarkan yaitu Rp750 – Rp1.100 per lembar. Saham perdana yang ditawarkan sebanyak 6,27 miliar lembar (porsi Garuda 4,4 miliar saham, sedangkan Bank Mandiri yang memiliki saham di Garuda mendapat porsi divestasi 1,9 miliar lembar) tersebut dianggap mahal atau murah masih menjadi kontroversi di kalangan para ahli.

Menurut Kepala Riset PT e-Trading Securities, Bertrand Reynaldi, harga penawaran perdana saham Garuda yang berada pada kisaran Rp750 atau merefleksikan 32,41 kali rasio harga saham dibanding laba bersih per saham atau P/E dan 2,21 kali rasio harga saham dibanding nilai bukunya (price to book value/PBV) terbilang mahal. Bila dibandingkan dengan P/E dan PBV maskapai Malaysian Airlines yang hanya 7,06 kali dan 1,22 kali. Singapore Airlines memiliki P/E dan PBV masing-masing 14,06 kali dan 0,85 kali. Begitu pula dengan Cathay Pacific Airways yang memiliki P/E 8,47 kali dan PBV 0,93 kali, serta China Southern Airlines yang tercatat dengan P/E 13,54 kali dan PBV 1,06 kali, dengan secara rata-rata P/E dan PBV perusahaan lain pada industri sejenis masing-masing tercatat sekitar 32,33 kali dan 1,76 kali.

Selain itu, meski perusahaan ini dimiliki pemerintah, tetapi tidak terlalu menjanjikan karena saat ini industri penerbangan sedang terpuruk. Seperti banyaknya maskapai penerbangan yang berhenti beroperasi karena bangkrut. Pendapatan Garuda juga bergantung pada penerbangan haji, yang saat ini memberikan kontribusi sekitar 20 persen. Jadi, kalau Kementerian Agama memilih maskapai lain bisa mengurangi pendapatan Garuda.

Namun menurut Pardomuan Sihombing, kepala riset PT Recapital Securities menilai harga IPO Garuda cukup menarik bila dibandingkan dengan valuasi perusahaan terhadap laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EV/EBITDA) industri sejenis yang sebesar 7,4 kali. Harga indikatif IPO Garuda sebesar Rp750 per saham. Pada kisaran harga itu, EV/EBITDA Garuda berkisar 7,4 kali. Jadi, masih terbilang murah karena prospek Garuda ke depan sangat menjanjikan. Geografi Indonesia yang berkepulauan, memungkinkan transportasi diutamakan dengan menggunakan pesawat terbang. Oleh karena itu, selain pasar domestik berpotensi besar, perseroan juga rajin merambah pasar internasional.

Reaksi pasar Terhadap penawaran Harga Saham Perdana PT Garuda Indonesia dan Dampaknya Terhadap Penjamin Emisi Efek

Sejak resmi melantai di Bursa Efek Indonesia 11 Februari 2010, harga saham Garuda sudah turun hingga 31 persen (dapat dilihat di lampiran). Turunnya harga saham ini merupakan akibat dari tidak lakunya saham perdana PT Garuda. Hal ini membuat PT Bahana Securities, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Dana Reksa mengalami kerugian karena masing-masing memiliki empat persen saham Garuda. Total potensi kerugian (potential loss) ketiga perusahaan efek tersebut dari perdagangan saham hampir menembus Rp 690 miliar. Modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) tiga perusahaan efek itu pun semakin berkurang.

Ketiga perusahaan efek tersebut dalam perannya sebagai penjamin emisi saham Garuda menangung beban saham yang tidak terserap pasar dikarenakan perjanjian full comitment. Penawaran perdana saham Garuda yang tidak terserap pasar mencapai 3,01 miliar lembar dari total yang dijual 6,27 miliar lembar. Jumlah saham Garuda tak terjual itu setara dengan 12 persen atau senilai Rp 2,25 triliun. Akibatnya, ketiga perusahaan efek tersebut kewalahan mencari dana untuk menyerap saham Garuda. PT Dana Reksa dan PT Bahana Sekuritas terpaksa berutang ke PT Dana Reksa dan PT Bank Mandiri.  PT Dana Reksa memberi dana Rp 750 miliar kepada Dana Reksa Sekuritas-unit usahanya sendiri-dan Rp 250 miliar kepada PT Bahana Sekuritas. Bahkan PT Bahana sekuritas harus mencari tambahan utang ke Bank Mandiri dan pasar uang. Mandiri Sekuritas meminjam dari induknya (Bank Mandiri), senilai Rp 750 miliar dengan tingkat bunga yang tinggi.

Meski saham Garuda masih terus turun dratis, pemerintah masih optimis saham garuda akan kembali naik. Sebab, persoalan utama PT Garuda yaitu restrukturisasi utang dianggap sudah teratasi. Selain itu, PT Garuda juga sudah memiliki dana yang dapat menambah modal, memiliki fundamental yang kuat, infrastruktur bagus, pesawat baru, dan sumber daya manusia terlatih dan berpengalaman.

Kegagalan penjualan saham Garuda berpangkal pada penentuan harga sahamnya. Menurut sumber Tempo, pemicunya berawal dari Kementerian BUMN yang memaksakan keinginannya. Sebetulnya, hasil riset tiga penjamin emisi dan dua agen penjual asing, Citigroup dan UBS Securities, menunjukkan harga jual wajar saham Garuda Rp 500- Rp 680 per lembar. Pada tahap pemasaran awal (pre-marketing)-tak mengikat investor-harga saham Garuda diusulkan dijual pada rentang Rp 560- Rp 850 per saham. Sebanyak 130 investor yang menerima hasil riset tersebut antusias ingin membeli saham Garuda. Sayangnya, Menteri BUMN Mustafa Abubakar keberatan harga Garuda dilepas di bawah harga saham penjualan saham perdana PT Krakatau Steel Rp 850 per lembar. Pada saat kisaran harga Rp 750-1.100 itu diumumkan, menurut sumber Tempo, apabila investor-investor besar dan berkualitas, memesan saham pasti akan mundur teratur. Pergulatan penetapan harga saham Garuda berlanjut pada saat membahas hasil book building (penetapan harga mirip lelang). Menteri BUMN sempat bersikeras harga saham Garuda dijual di atas Rp 1.000 per saham.

Semula para pejabat PT Bahana, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Dana Reksa tidak berani menolak keputusan itu. Setelah terjadi perdebatan, Menteri BUMN pun memutuskan bahwa harga jual saham Garuda Rp 750 selembar. Harga saham ini yang dinilai terlalu mahal sehingga investor tidak bisa mengambil keuntungan dari pembelian saham Garuda ini.

Fakta yang terjadi, tingginya harga berdampak besar dan peminat berkurang. Pada masa pemesanan, tanda-tanda saham Garuda tak laku mulai terlihat. Semula saham Garuda yang akan ditawarkan sebanyak 9,4 miliar lembar (sekitar 30 persen) kepada publik. Tapi permintaan dari investor hanya sekitar 6,27 miliar lembar (sekitar 26,7 persen). Saat investor sudah terlihat tak berminat dengan saham Garuda, penjamin emisi dari PT Bahana memperingatkan Kementerian BUMN bahwa PT Bahana tidak punya uang cukup untuk menyerap saham yang tak laku. Pada saat itu sedikitnya penawaran masih Rp 850 miliar, terus naik Rp 1 triliun lebih, sampai kemudian menjadi Rp 2,25 triliun.

Sampai akhir masa pemesanan, jumlah saham Garuda yang terjual hanya 3,26 miliar atau sekitar 14,7 persen. Sisanya 3,01 miliar lembar atau 12 persen senilai Rp 2,25 triliun tak terjual. Oleh karena itu, penjamin emisi kesulitan mencari dana untuk membeli saham tidak laku masing-masing Rp 750 miliar. PT Bahana adalah penjamin emisi yang paling mengalami kesulitan, karena hanya punya modal Rp 300 miliar.

Melihat PT Bahana kesulitan, Kementerian BUMN memerintahkan secara lisan kepada PT Dana Reksa agar memberi pinjaman kepada unit usaha PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia itu. Tidak bisa menolak, PT Dana Reksa  mencairkan giro di Bank Mandiri untuk dipinjamkan ke PT Bahana dan harus lunas dalam satu sampai enam bulan dengan bunga belasan persen.

Meski harus menanggung rugi yang besar, PT Dana Reksa dan PT Bahana mencoba melihat sisi positifnya. Justru setelah menjual saham, Garuda berhasil meraup dana sedikitnya Rp 2 triliun untuk ekspansi. Tentunya diharapkan kinerja Garuda membaik dan nilai sahamnya dapat naik.

KESIMPULAN

Permasalahan utama yang terjadi pada penawaran saham perdana PT. Garuda Indonesia adalah tidak tepatnya penetapan harga saham perdana yaitu sebesar Rp 750 dan bukannya masalah restrukturisasi hutang yang dilakukan PT. Garuda Indonesia.

Penetapan harga yang tidak tepat tersebut dapat dilihat dari P/E Ratio dan EV/EBITDA yang telah dibahas di bab sebelumnya. Dalam hal ini, pemerintah sebagai pengelola BUMN salah dalam pengambilan keputusan mengenai penetapan harga tersebut dan berakibat kerugian pada para penjamin emisi yang melakukan perjanjian full commitment. Penetapan harga saham oleh Menteri BUMN tersebut yang didasarkan oleh P/E Ratio dari industri lain (Krakatau Steel) dianggap tidak relevan dan tidak sesuai, karena P/E ratio masing-masing industri berbeda satu dengan yang lainnya.

Seharusnya, sebuah perusahaan yang akan melakukan penawaran saham perdana mempertimbangkan dengan lebih baik P/E Ratio perusahaan dan P/E Ratio industri masing-masing dalam penetapan harga sahamnya. Jangan sampai mengharapkan keuntungan lebih yang tidak sesuai dengan kenyataan.

REFERENSI 

Jogiyanto. 2009. Teori portofolio dan Analisis Investasi. BPFE, Yogyakarta.

Antique. Harga IPO Garuda Rp750, Mahal atau Murah?, http://bisnis.vivanews.com/news/read/201583-harga-ipo-garuda-rp750–mahal-atau-murah- di-download pada tanggal 11 April 2011, pk 10.58.

Antique, Go Public Garuda Molor Tahun Depan, http://bisnis.vivanews.com/news/read/178942-ipo-garuda-molor-tahun-depan di-download pada tanggal 11 April 2011, pkl 11.15.

Kartika, Mega. Peran Dan Tanggung Jawab Underwriter Dalam Perjanjian Full Commitment Di Pasar Perdanadi http://www.detikfinance.com/read/2011/01/26/154700/1555117/6/harga-ipo-garuda-rp-750 di-download pada tanggal 11 April 2011, pk 10.54.

———-, “Ada Markus Yang Tak Ingin Garuda Terbang Tinggi….”: Pemerintah & Penjamin Emisi Rugi Dua Kali, http://ekbis.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=20178 di-download pada tanggal 10 April 2011, pk 10.54.

———-, Jamsostek Ekstra Hati-hati Kucurkan Dana Ke Sekuritas, http://ekbis.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=20170 di-download pada tanggal 10 April 2011 pk 11.07.

Author: Anggreni Dian Kurniawati, Agust Pratiwi Sidabutar, Benediktus Bayu Adiprana

Categories: Accounting Side | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Studi Peristiwa (Event Study) Penawaran Saham Perdana PT. Garuda Indonesia

  1. Ifa

    Thanks ya buat artikelnya…

  2. wao…thaks atas info2nya nich……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: