FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
EARNINGS RESPONSE COEFFICIENT
(Studi pada Perusahaan Eropa Versus Asia
yang Terdaftar di New York Stock Exchange)
Anggreni Dian Kurniawati, S.E., M.sc.
ABSTRAK
Penelitian ini menguji faktor-faktor yang mempengaruhi earnings response coefficient (ERC) yaitu persistensi laba, leverage, ukuran perusahaan, dan kualitas akrual serta menganalisis apakah terdapat perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi ERC di perusahaan Eropa dengan faktor-faktor yang mempengaruhi ERC di perusahaan Asia.
Studi penelitian ini dilakukan pada 36 perusahaan manufaktur Eropa dan 50 perusahaan manufaktur Asia yang terdaftar di NYSE. Pengumpulan data dilakukan secara purposive sampling. Model empiris yang digunakan dalam penelitian adalah uji regresi linier berganda.
Penelitian ini membuktikan secara empiris bahwa persistensi laba, leverage, dan kualitas akrual merupakan faktor yang mempengaruhi ERC secara positif baik di perusahaan Asia maupun di perusahaan Eropa. Ukuran perusahaan merupakan faktor yang mempengaruhi ERC secara positif di perusahaan Asia, namun mempengaruhi ERC secara negatif di perusahaan Eropa. Analisis tambahan dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi ERC perusahaan Asia berbeda dengan faktor-faktor yang mempengaruhi ERC di perusahaan Eropa dan perbedaan tersebut disebabkan oleh kualitas perusahaan yang berbeda pada kedua negara tersebut.
Kata kunci: earnings response coefficient, kualitas akrual, leverage, persistensi laba, ukuran perusahaan.
I. PENDAHULUAN
Salah satu informasi yang dianggap relevan oleh para investor adalah laporan keuangan perusahaan. Informasi laporan keuangan merupakan salah satu informasi yang dapat digunakan untuk mempertimbangkan keputusan investasi yang dilakukan oleh investor. Ball (2005) menyatakan bahwa pelaporan keuangan yang berkualitas adalah pelaporan keuangan yang dapat memberikan informasi yang berguna bagi penggunanya. Informasi relevan tentang perusahaan harus bisa memprediksi kinerja perusahaan di masa yang akan datang dan membantu pengguna dalam pengambilan keputusan, maka laporan keuangan tersebut harus dapat menggambarkan kondisi keuangan yang akurat, tingkat manipulasi manajerial yang kecil, dan tepat waktu. Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No. 1 menyatakan bahwa selain untuk menilai kinerja manajemen, laporan keuangan juga dapat digunakan untuk mengestimasi kemampuan laba yang representatif, serta untuk menaksir resiko dalam investasi atau kredit (FASB, 1985).
Penelitian mengenai laba telah banyak dilakukan terutama yang berfokus pada penghitungan kualitas laba. Ball dan Brown (1968) dalam penelitiannya menyatakan bahwa laba akuntansi mempunyai hubungan positif secara statis dengan return saham, sehingga dapat dikatakan bahwa naik turunnya laba akan berpengaruh terhadap naik turunnya return saham secara searah. Besarnya hubungan antara laba dengan return saham dapat diukur dengan menggunakan earning response coefficient (ERC). Cho dan Jung (1991) dan Scott (2003) mendefinisikan ERC sebagai efek dari setiap dollar laba kejutan terhadap return saham yang diukur dengan koefisien kemiringan dalam regresi laba kejutan terhadap return abnormal. ERC merupakan ukuran besarnya kekuatan hubungan laba akuntansi dengan harga saham, maka ERC juga dapat digunakan sebagai salah satu pengukur kualitas laba.
Hasil penelitian Lipe (1990) dan Biddle dan Seow (1991) menunjukkan bahwa ERC sebagai pengukur kualitas laba bergantung pada tingkat persistensi laba, prediktabilitas laba, kovarians saham dengan return pasar, pertumbuhan perusahaan, serta karakteristik industri. Chaney dan Jeter (1990) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan mempengaruhi ERC. Feltham dan Pae (1999) menunjukkan bahwa ERC yang menunujukkan kualitas laba dipengaruhi oleh persistensi laba dan kualitas akrual perusahaan. Donelly (2002) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa persistensi laba berpengaruh positif terhadap ERC dan meningkatkan kualitas laba perusahaan. Jang dkk (2007) menunjukkan bahwa leverage berpengaruh positif pada kualitas laba.
Berbagai penelitian di atas menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang diduga dapat mempengaruhi ERC yaitu: ukuran perusahaan, leverage, persistensi laba, dan kualitas akrual. Penelitian ini mengambil empat faktor untuk diuji pengaruhnya terhadap ERC dan merupakan replikasi dari berbagai penelitian sebelumnya. Motivasi dari penelitian ini adalah melengkapi penelitian sebelumnya tentang ERC yang berfokus pada sampel perusahaan-perusahaan lokal di suatu negara saja. Sedangkan penelitian ini berfokus pada dua perusahaan yaitu perusahaan Eropa dan Asia yang memiliki karakteristik perusahaaan dan karakteristik negara yang sangat berbeda, tetapi cross-listed atau terdaftar di New York Stock Exchange (NYSE). Perusahaan multinasional yang terdaftar di NYSE dapat dikatakan memiliki level yang sama dengan perusahaan nasional di Amerika Serikat, sehingga kemungkinan kualitas laba perusahaan multinasional tersebut akan direspons sama dengan perusahaan Amerika oleh investor tanpa mempertimbangkan karakteristik negara dan perusahaan asal perusahaan multinasional tersebut. Apabila kualitas laba direspon sama maka faktor-faktor yang mempengaruhi ERC dari kedua negara ini pun mungkin akan sama. Penelitian sebelumnya dari Gaio (2010) yang menganalisis perbedaan kualitas laba di tiap-tiap negara di dunia menemukan bahwa karakteristik perusahaan dan negara juga menentukan perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas laba tiap perusahaan di negara yang berbeda. Namun, Gaio (2010) tidak menggunakan sampel perusahaan multinasional yang terdaftar di NYSE yang dimungkinkan memiliki faktor-faktor yang sama yang dapat mempengaruhi ERC. Hal inilah yang membuat peneliti tertarik untuk melihat apakah terdapat perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi ERC pada perusahaan yang sama-sama terdaftar di NYSE tetapi memiliki karakteristik perusahaan dan negara yang berbeda dengan melakukan analisis tambahan. Analisis tambahan ini sekaligus mengembangkan penelitian dari Gaio (2010) dengan menggunakan sampel penelitian perusahaan yang cross-listed di NYSE.
Tujuan dari penelitian ini adalah menguji secara empiris apakah persistensi laba, leverage, ukuran perusahaan, dan kualitas akrual merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi ERC perusahaan Eropa dan Asia yang terdaftar di NYSE dan menganalisis apakah faktor-faktor yang mempengaruhi ERC pada perusahaan Eropa berbeda dengan perusahaan Asia yang terdaftar di NYSE. Hasil penelitian ini diharapkan dapat melengkapi bukti beberapa penelitian sebelumnya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ERC secara lokal maupun internasional, sehingga kelak dapat digunakan oleh akademisi akuntansi internasional sebagai wacana dalam penelitian bidang akuntansi selanjutnya. Selain itu, diharapkan pula penelitian ini dapat menjadi bahan wacana dan pertimbangan investor dalam pembuatan keputusan investasinya ketika akan melakukan analisis perusahaan sebelum menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut.
II. LANDASAN TEORI
Earnings Response Coefficient (ERC) dan Kualitas Laba
Definisi kualitas laba menurut Schroeder dkk (2001) adalah korelasi antara laba akuntansi dan laba ekonomi. Tingkat kualitas laba ditentukan melalui selisih antara laba akuntansi dan laba ekonomi. Jika laba akuntansi mendekati laba ekonomi, maka laba tersebut dapat dikatakan berkualitas. Angka laba akan lebih bermakna jika laba tersebut mencakup perubahan kemakmuran atau penciptaan nilai sebagai hasil kinerja ekonomik suatu kesatuan usaha. Diharapkan bahwa laba akuntansi akan mendekati laba ekonomi yang berarti bahwa perubahan laba akuntansi diharapkan merefleksikan pula perubahan ekonomi perusahaan. Dengan demikian, laba akuntansi masih tetap bermanfaat bagi investor yang mungkin lebih berkepentingan dengan laba ekonomi.
Candrarin (2001) menyatakan bahwa laba akuntansi yang berkualitas adalah laba akuntansi yang mempunyai sedikit gangguan persepsian (perceived noise) di dalamnya dan dapat mencerminkan kinerja keuangan perusahaan yang sesungguhnya. Semakin besar gangguan persepsian yang terkandung dalam laba akuntansi, maka semakin rendah kualitas laba tersebut. Menurut Hayn (1995) gangguan persepsian dalam laba akuntansi dapat disebabkan peristiwa transitori atau penerapan konsep akrual dalam akuntansi. Ada beberapa penyebab terjadinya laba transitori. Pertama, beberapa aktivitas bisnis seperti penjualan aktiva, menghasilkan laba atau rugi yang hanya terjadi satu kali. Kedua, karena adanya ketidaksimetrisan informasi antara manajemen dan orang luar dan karena kemungkinan adanya tuntutan hukum, maka timbullah angka-angka akuntansi yang konservatif. Collins dan Kothari (1989) menemukan bahwa laba yang persisten menyebabkan ERC bervariasi antar perusahaan (cross sectional). Hasil penelitiannya menyatakan bahwa ERC laba yang permanen lebih tinggi dibandingkan laba transitori.
Laba akuntansi yang berkualitas ini juga dinyatakan hubungannya dengan return saham yang kemudian akan tercermin oleh respon pasar. Ball and Brown (1968) menyimpulkan bahwa perubahan laba tahunan berkorelasi dengan return saham residual, hal ini menjadi awal mula di mana banyak penelitian yang secara konsisten menemukan bukti hubungan tentang relevansi dan ketepatwaktuan (timeliness) laba akuntansi. Hasil tersebut menunjukkan hubungan antara laba kejutan dengan return saham residual yang secara statistik signifikan. Laba kejutan merupakan selisih laba yang sesungguhnya dengan laba ekspektasian investor. Reaksi pasar tercermin dalam pergerakan harga saham sekitar tanggal pengumuman laba. Harga saham cenderung naik apabila laba yang dilaporkan lebih besar dari laba ekspektasian, dan sebaliknya harga saham cenderung turun apabila laba yang dilaporkan lebih kecil dari laba ekspektasian. Hal ini pula yang menyebabkan penelitian tentang keinformatifan laba pada akhir tahun 1980 beralih pada koefisien respon laba atau earnings response coefficient (ERC) yang menguji efek kejadian tertentu terhadap keinformatifan laba yang diukur.
Holthausen dan Verrechia (1988) membuktikan bahwa terjadi variasi cross sectional dalam ERC. Ada asosiasi positif antara laba perusahaan yang jumlahnya cukup signifikan dengan perubahan harga saham. Sebuah perusahaan diperkirakan memiliki laba yang berasosiasi sangat rendah bahkan negatif dengan perubahan harga saham. ERC sendiri dapat didefinisikan sebagai koefisien pada pengukuran laba akuntansi ekspektasian dalam regresi pasar saham abnormal (Scott, 2003), maka dapat disimpulkan bahwa ERC merupakan ukuran besarnya kekuatan hubungan laba akuntansi dengan harga saham. Cho dan Jung (1991) mengelompokkan penelitian ERC dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah penelitian yang memfokuskan pada perubahan ketidakpastian laba masa datang dan kelompok kedua memfokuskan kualitas laba. Penelitian ini berfokus pada kelompok yang kedua yaitu kelompok yang berfokus pada kualitas laba.
ERC berhubungan dengan dua komponen laba yaitu laba permanen dan laba transitori. Kothari (2001) merangkum setidaknya terdapat empat hipoteis yang menjelaskan besaran ERC yaitu: harga yang menuntun laba (price lead earnings), pasar modal yang tidak efisien, gangguan (noise) pada laba dan kurang baiknya GAAP, dan laba transitori. Di dalam penelitiannya juga dijelaskan juga bahwa hipotesis harga yang menuntun laba dan adanya laba transitori merupakan penjelasan yang paling dominan untuk hubungan return dengan laba dan untuk besaran ERC yang diamati. Oleh karena itu, erat kaitannya antara ERC dan kualitas laba karena adanya kedekatan hubungan ERC dengan laba itu sendiri.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Earnings Response Coefficient
Menurut beberapa penelitian sebelumnya, Earnings Response Coefficient (ERC) dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap ERC sebelumnya sudah pernah diteliti sejak tahun 1990-an. Variabilitas ERC dapat terjadi antar waktu maupun antar perusahaan. ERC yang berbeda dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya persistensi atau pertumbuhan laba, ukuran perusahaan, risiko, dan pertumbuhan perusahaan (Rayburn, 1987; Collin dan Khotari, 1989; Schroeder, 1995; Martikainen, 1997).
Berdasarkan hasil penelitian Collins dan Kothari (1989) menemukan bahwa laba yang persisten menyebabkan ERC bervariasi antar perusahaan (cross sectional). Hal ini didukung oleh penelitian dari Lipe (1990) serta Biddle dan Seow (1991) yang menunjukkan bahwa ERC bergantung pada tingkat persistensi laba, prediktabilitas laba, kovarians saham dengan return pasar, pertumbuhan perusahaan, serta karakteristik industri. Chaney dan Jeter (1990) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan mempengaruhi ERC. Penelitian Kross dan Schroeder (1996) juga membuktikan bahwa ERC perusahaan kecil berbeda terhadap pengumuman laba interim dan tahunan. SEC melaporkan bahwa pengumuman laba tahunan perusahaan kecil kurang dapat diandalkan dibandingkan dengan perusahaan besar. Kesimpulan tersebut didasarkan pada proses audit yang terjadi di perusahaan. Selama proses audit, auditor hanya berada dalam jangka waktu yang sangat terbatas di perusahaan yang diaudit, sehingga tidak dapat terlalu banyak mempengaruhi angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan. Namun tidak sama halnya dengan perusahaan besar yang membutuhkan ketelibatan auditor secara terus-menerus akibat kompleksitas perusahaan. Kesimpulannya adalah ERC perusahaan berbeda apabila dilihat dari ukuran perusahaan, demikian pula dengan kualitas labanya.
Penelitian lain yang mendukung faktor-faktor yang mempengaruhi ERC adalah penelitian dari Feltham dan Pae (1999) juga menunjukkan bahwa ERC dipengaruhi oleh laba persisten dan kualitas akrual perusahaan. Donelly (2002) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa persistensi laba berpengaruh positif terhadap ERC. Jang dkk (2007) menunjukkan bahwa leverage berpengaruh positif pada kualitas laba. Dewi (2003) juga menyatakan bahwa laba yang berkualitas tidak dapat dilepaskan dari abnormal (discretionary) akrual yang terkandung pada angka laba.
Berbagai penelitian di atas menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi ERC yaitu persistensi laba, leverage, ukuran perusahaan, dan kualitas akrual. Masing-masing faktor tersebutlah yang nantinya akan dibahas lebih lanjut dalam penelitian ini.
Earnings Response Coefficient Perusahaan yang Cross-Listed di New York Stock Exchange (NYSE)
Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan Eropa dan Asia yang cross-listed atau terdaftar di pasar modal Amerika Serikat dan berasal dari negara yang berbeda karakteristik perusahaan maupun negaranya. Hal ini dilakukan karena peneliti ingin menganalisis dan membandingkan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi ERC dan kualitas laba secara umum kedua negara dengan karakteristik negara dan perusahaan yang berbeda tersebut.
Gaio (2010) menyatakan bahwa cross-listing di pasar internasional kemungkinan akan memainkan peran dalam kepentingan relatif dari tingkat karakteristik perusahaan dan tingkat karakteristik negara dalam menentukan kualitas laba. Perusahaan dengan akses ke pasar modal dan lembaga keuangan asing mungkin kurang tergantung pada tingkat perkembangan dari negara asal mereka karena mereka dapat menaikkan dan menginvestasikan dana inter-nasional, sehingga mereka dapat mengatasi lingkungan negara miskin mereka. Perusahaan yang cross-listing di bursa AS (Doidge dkk, 2004) dan perusahaan yang menyewa auditor berkualitas tinggi (Fan dan Wong, 2002) memiliki efek positif pada nilai perusahaan dan kualitas akuntansi. Dengan demikian, untuk perusahaan aktif di pasar internasional seperti perusahaan yang cross listing di pasar Amerika Serikat, ERC dan kualitas laba mungkin kurang dipengaruhi oleh karakteristik negara, tetapi lebih kepada karakteristik perusahaan. Penelitian ini menggunakan perusahaan Eropa dan Asia yang cross-listed di NYSE. Kedua perusahaan ini dipilih karena perbedaan mendasar dari segi karakteristik negara dan perusahaan yang dimilikinya. Perbedaan tersebutlah yang dimungkinkan akan membuat perbedaan pula pada faktor-faktor yang mempengaruhi ERC karena perusahaan perdagangan di pasar internasional mungkin akan menghadapi tekanan tambahan untuk meningkatkan kualitas labanya. Hasil Raonic dkk (2004) mendukung gagasan bahwa tekanan pasar modal dan penegakan peraturan yang didapatkan oleh aktivitas cross-listing di luar negeri menyebabkan akuntansi menjadi lebih konservatif. Lang dkk (2003) menunjukkan bahwa membandingkan perusahaan yang tidak terdaftar di negara yang sama, maka perusahaan yang terdaftar di pasar modal Amerika Serikat memiliki manajemen laba yang lebih rendah dan melaporkan laporan keuangan secara konservatif. Mereka menemukan bahwa perusahaan yang terdaftar di pasar modal Amerika Serikat memiliki tingkat transparasi yang tinggi sebelum terdaftar di pasar modal dan menemukan bahwa peristiwa cross-listing merupakan katalisator kualitas laba.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan tahunan perusahaan Asia dan Eropa yang terdaftar di NYSE (laporan keuangan 20-F). Pengunaan data yang diambil dari NYSE ini dilatarbelakangi oleh besarnya nilai kapitalisasi perusahaan diharapkan mampu merefleksikan kondisi pasar modal secara keseluruhan. Perusahaan yang terdaftar di pasar modal Amerika Serikat memiliki lingkungan pelaporan keuangan yang sama seperti perusahaan Amerika Serikat lainnya dan dipengaruhi oleh US-GAAP yang dilihat dari adanya laporan 20-F untuk merekonsiliasi GAAP domestik mereka dengan US-GAAP.
Pengembangan Hipotesis
Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa persistensi laba berhubungan positif dengan earnings response coefficient (Kormendi dan Lipe, 1987; Easton dan Zmijweski,1989). Collins dan Kothari (1989) menemukan bahwa laba yang persisten menyebabkan ERC bervariasi antar perusahaan (cross sectional). Hasil penelitiannya juga mendukung bahwa ERC laba yang permanen lebih tinggi dibandingkan laba transitori. Penelitian Lipe (1990) serta Biddle dan Seow (1991) menunjukkan bahwa ERC bergantung pada tingkat persistensi laba, prediktabilitas laba, kovarians saham dengan return pasar, pertumbuhan perusahaan, serta karakteristik industri. Donelly (2002) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa persistensi laba berpengaruh positif terhadap ERC.
Penelitian-penelitian sebelumnya tersebut juga membuktikan bahwa persistensi laba merupakan sebuah faktor yang mempengaruhi ERC. Persistensi laba merupakan suatu ukuran yang menjelaskan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan jumlah laba yang diperoleh saat ini sampai masa mendatang. Semakin tinggi persistensi laba maka semakin tinggi ERC. Kondisi ini menunjukkan bahwa laba yang diperoleh perusahaan akan meningkat terus menerus. Hal ini berarti laba yang dihasilkan oleh suatu perusahaan berkualitas, maka peneliti mengajukan hipotesis yang pertama yaitu:
H1 Persistensi laba berpengaruh positif terhadap earnings response coefficient (ERC) baik di perusahaan Asia maupun perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE.
Dhaliwal dkk (1991) menunjukkan bahwa ERC berhubungan negatif dengan tingkat leverage. Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi berarti memiliki utang yang lebih besar dibandingkan modal. Dengan demikian jika terjadi peningkatan laba maka yang diuntungkan adalah debtholders. Besarnya tingkat leverage perusahaan menyebabkan para investor kurang percaya terhadap laba yang dipublikasikan oleh suatu perusahaan, sehingga akan mengakibatkan respon pasar menjadi relatif rendah. Respon pasar yang relatif rendah ini pada akhirnya akan mencerminkan bahwa laba suatu perusahaan kurang atau tidak berkualitas.
Penelitian Dhaliwal dkk (1991) tersebut tidak sejalan dengan penelitian Jang dkk (2007) yang memukan bahwa tingkat leverage berpengaruh positif terhadap ERC. Ketidakkonsistenan hasil penelitian tersebut membuat peneliti merumuskan hipotesis kedua sebagai berikut:
H2 Leverage berpengaruh negatif terhadap earnings response coefficient (ERC) baik di perusahaan Asia maupun perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE.
Ukuran perusahaan diproksikan oleh keinformatifan harga. Semakin luas informasi yang tersedia mengenai perusahaan besar memberikan bentuk konsensus yang lebih baik mengenai laba ekonomis karena perusahaan besar dianggap memiliki informasi yang lebih banyak dibandingkan perusahaan kecil. Semakin informatif harga saham, maka semakin kecil pula kapasitas informasi laba sekarang. Oleh karena itu, apabila terdapat inovasi baru, maka inovasi tersebut besar pengaruhnya terhadap laba perusahaan berskala kecil dibanding perusahaan besar. Selain itu, suatu suatu ukuran perusahaan dapat menentukan baik tidaknya kinerja perusahaan. Investor biasanya lebih memiliki kepercayaan pada perusahaan besar, karena perusahaan besar dianggap mampu untuk terus meningkatkan kinerja perusahaannya dengan berupaya meningkatkan kualitas labanya.
Apabila dilihat dari proses audit yang dilakukan auditor di suatu perusahaan, auditor hanya berada dalam jangka waktu yang sangat terbatas di perusahaan yang diaudit, sehingga tidak dapat terlalu banyak mempengaruhi angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan. Namun tidak sama halnya dengan perusahaan besar yang membutuhkan ketelibatan auditor secara terus-menerus akibat kompleksitas perusahaan. Kesimpulannya bahwa ERC perusahaan berbeda apabila dilihat dari ukuran perusahaan, demikian pula dengan kualitas labanya.
Beberapa penelitian sebelumnya juga mendukung bahwa ukuran perusahaan berpengaruh secara positif terhadap ERC yaitu penelitian dari Chaney dan Jeter (1990). Sedangkan penelitian dari Easton dan Zjimweski (1989) menunjukkan bahwa besaran perusahaan bukan variabel yang signifikan untuk menjelaskan ERC. Ketidakkonsistenan hasil penelitian ini membuat peneliti merumuskan hipotesis yang ketiga sebagai berikut:
H3 Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap earnings response coefficient (ERC) baik di perusahaan Asia maupun perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE.
Wolk dan Tearney (2000) menyatakan bahwa akuntansi konservatif tidak saja berkaitan dengan pemilihan metoda akuntansi tetapi juga estimasi yang seringkali diterapkan dan berkaitan dengan akuntansi akrual. Gigler dan Hemmer (2001) menyatakan bahwa pasar bereaksi lebih cepat terhadap informasi-informasi dari perusahaan yang menerapkan metode akuntansi yang kurang konservatif. Penman (2002) menarik kesimpulan bahwa laba yang disusun dengan prinsip akuntansi cenderung konservatif dianggap sebagai bad news, sehingga direaksi dengan cepat oleh pasar. Dewi (2003) menyatakan bahwa terdapat hubungan antara konservatisme laporan keuangan dengan akuntansi akrual dan ERC laporan keuangan yang cenderung konservatif berbeda dengan ERC laporan keuangan yang cenderung kurang konservatif. Berdasarkan penelitian-penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ERC berhubungan dengan konservatisme dan kualitas akrual.
Kualitas akrual menghasilkan penyimpangan besar dalam pengakuan kas. Kondisi ini berarti laba tidak mencerminkan kenyataan karena adanya penyusunan laporan keuangan yang tidak sesuai dengan prinsip akuntansi atau dapat dikatakan bahwa kualitas akrual rendah. Sebaliknya, semakin dekat hubungan antara arus kas dan akrual atau penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip akuntansi, maka laba akan lebih mencerminkan kenyataan, maka semakin tinggi kualitas akrual dan semakin tinggi pula kualitas labanya. Kondisi ini dapat disebabkan oleh adanya abnormal (discretionary) akrual.
Feltham dan Pae (1999) menunjukkan bahwa ERC dipengaruhi oleh laba persisten dan kualitas akrual perusahaan. Gagaring (2006) menyatakan bahwa kualitas akrual menunjukkan seberapa dekat hubungan antara arus kas dengan akrual dan kualitas akrual tersebut berpengaruh positif terhadap ERC. Berdasarkan berbagai penelitian-penelitian tersebut maka peneliti merumuskan hipotesis yang keempat sebagai berikut:
H4 Kualitas akrual berpengaruh positif terhadap earnings response coefficient (ERC) baik di perusahaan Asia maupun perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE.
Analisis Tambahan
Banyak penelitian internasional yang telah meneliti hubungan antara karakteristik negara dan atribut laba dan telah menemukan perbedaan yang signifikan dalam atribut pendapatan di seluruh negara. Atribut tertentu termasuk relevansi nilai laba (Ali dan Hwang, 2000); kualitas akrual (Boonlert-U-Thai dkk, 2006); laba ketepatan waktu (Ball dkk, 2000, 2003; Raonic dkk, 2004); pendapatan konservatisme (Giner dan Rees, 2001; Bushman dan Piotroski, 2006), dan kelancaran laba (Leuz dkk, 2003).
Kualitas laba dapat sangat bervariasi tidak hanya antar negara, tetapi juga di seluruh perusahaan dalam suatu negara. Hal ini pula yang menyebabkan perbedaan variasi respon investor terhadap laba perusahaan yang berarti ERC nya pun bervariasi. Skandal keuangan di Amerika Serikat (misalnya Enron) dan di Eropa (misalnya Parmalat) menunjukkan bahwa perusahaan yang berkualitas rendah, angka akuntansi yang dihasilkan dapat dipoles tanpa diketahui dalam jangka waktu yang lama bahkan di negara dengan lembaga hukum yang kuat dan pasar keuangan yang berkembang dengan baik. Apalagi dengan perusahaan yang berlokasi di negara dengan lembaga-lembaga hukum yang buruk, memiliki mekanisme yang tersedia untuk berkomitmen keluar dari institusi negara miskin dan secara sukarela berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dari pelaporan keuangan (Holthausen, 2003). Perusahaan yang cross-listing di bursa Amerika Serikat (Doidge dkk, 2004) dan perusahaan yang menyewa auditor berkualitas tinggi (Fan dan Wong, 2002) memiliki efek positif pada nilai perusahaan dan kualitas akuntansi. Dengan demikian, perusahaan dan karakteristik industri dapat memainkan peran penting dalam menjelaskan tingkat kualitas laba perusahaan di seluruh dunia selain karakteristik negara (Gaio, 2010). Namun, dalam konteks literatur internasional hanya ada sedikit penelitian yang menyelidiki peran karakteristik perusahaan terhadap ERC dan kualitas laba pada umumnya.
Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, peneliti menduga bahwa perusahaan Eropa dan Asia yang memiliki karakteristik perusahaan dan karakteristik negara yang sangat berbeda juga memiliki perbedaan faktor-faktor yang kemudian akan mempengaruhi ERC dan kualitas laba mereka walaupun perusahaan-perusahaan tersebut sama-sama terdaftar di NYSE, maka peneliti melakukan analisis tambahan untuk melihat apakah benar terdapat perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi ERC dari kedua negara tersebut.
III. METODA PENELITIAN
Sampel Penelitian dan Pengumpulan Data
Sampel penelitian ini adalah perusahaan Asia dan Eropa yang terdaftar di New York Stock Exchange (NYSE) periode 2008-2011. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diunduh melalui situs resmi New York Stock Exchange (NYSE) yaitu www.nyse.com dan situs resmi NASDAQ yaitu www.nasdaq.com. Pemilihan sampel dilakukan secara purposive sampling, yaitu dengan menggunakan kriteria tertentu dalam melakukan pemilihan sampel, yaitu sebagai berikut:
- Perusahaan Eropa dan Asia terdaftar di NYSE yang diobservasi per tahun yaitu untuk periode 2008-2011.
- Perusahaan dikategorikan sebagai perusahaan manufaktur.
- Perusahaan Eropa dan Asia yang dipilih adalah perusahaan yang aktif melakukan perdagangan saham di New York Stock Exchange (NYSE) untuk melihat dengan respons pasar yang terkait dengan earnings response coefficient.
- Perusahaan yang digunakan sebagai sampel memiliki data yang lengkap sesuai dengan informasi yang sesuai dengan penelitian ini.
Berdasarkan kriteria pemilihan sampel di atas, sampel yang dapat digunakan dalam penelitian adalah 50 perusahaan Asia yang berdomisili di Cina, India, Jepang, Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan dan perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE sebanyak 36 perusahaan yang berdomisili di Belgia, Belanda, Denmark, Finlandia, Rusia, Spanyol, Swiz, dan United Kingdom.
Pengukuran Variabel
VARIABEL DEPENDEN
Variabel dependen dari penelian ini adalah Earnings Response Coefficient (ERC). ERC merupakan koefisien yang diperoleh dari regresi antara proksi dari harga saham dan laba akuntansi. Oleh karena itu, untuk menghitung ERC, diperlukan beberapa penghitungan. Tahap pertama adalah menghitung nilai Cummulative Abnormal Return (CAR) masing-masing sampel perusahaan. CAR merupakan proksi harga saham yang menunjukkan besarnya respon pasar terhadap informasi akuntansi yang dipublikasi. CAR dihitung berdasarkan model pasar (market model) yang dilakukan dengan dua tahap yaitu membentuk model ekspektasi dengan menggunakan data realisasi selama perioda estimasi dan digunakan untuk mengestimasi return ekspektasi pada periode jendela. CAR diperoleh dengan menjumlahkan return abnormal sepanjang perioda jendela. Perioda jendela yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5 (lima) hari sebelum dan 5 (lima) hari sesudah tanggal publikasi laporan keuangan tahunan (11 hari perioda jendela). Perioda jendela ini dipilih untuk menangkap respon pasar saat laporan keuangan tahunan dipublikasikan baik sebelum, saat publikasi, maupun sesudah publikasi. Perioda ini tidak perlu terlalu panjang untuk menangkap respon pasar yang cepat.
Tahap kedua adalah menghitung unexpected earnings (UE) masing-masing perusahaan. UE merupakan proksi laba akuntansi yang menunjukkan hasil kinerja perioda tertentu. Model random walk merupakan ukuran ekspektasi laba akuntansi mulai awal tahun sampai akhir perioda amatan dan memiliki spesifikasi proses penurunan (generasi) laba akuntansi yang baik. Model ini bisa diasumsikan sebagai proses untuk menghasilkan laba akuntansi. Setelah melakukan kedua tahap perhitungan tersebut maka dapat didapatkan nilai ERC. ERC merupakan koefisien yang diperoleh dari regresi antara proksi harga saham dan laba akuntansi. Proksi harga saham adalah CAR sedangkan proksi laba akuntansi adalah UE. Variabel return tahunan merupakan variabel tambahan yang digunakan dalam regresi untuk menghitung ERC.
VARIABEL INDEPENDEN
Variabel independen dari penelitian ini adalah persistensi laba, leverage, ukuran perusahaan, dan kualitas akrual. Persistensi laba akan diukur dari slope regresi atas perbedaan laba sebelum pajak saat ini dengan laba sebelum pajak sebelumnya (Lipe, 1990 dan Candrarin, 2003). Leverage diukur dengan membandingkan total utang dan total aset perusahaan (Dhaliwal dkk, 1991). Ukuran perusahaan diukur dengan menghitung logaritma natural dari total aset akhir tahun (Collins dan Kothari, 2009).
Variabel keempat adalah kualitas akrual yang diproksikan dengan abnormal (discretionary) akrual. Abnormal accruals digunakan sebagai proksi kualitas akrual karena menurut Richardson (2003) pengukuran besarnya akrual merupakan indikator yang baik untuk menentukan kualitas laba. Abnormal accrual merupakan tingkat akrual yang tidak normal yang berasal dari kebijakan manajemen untuk melakukan rekayasa terhadap laba sesuai dengan yang diinginkan. Untuk menghitung abnormal accrual, model yang digunakan adalah model modifikasi Jones. Model ini digunakan karena dianggap sebagai model yang paling baik dalam mendeteksi manajemen laba dan memberikan hasil yang kuat terlihat dari nilai koefisien determinasi tertinggi berdasarkan pengujian model manajemen laba yang lain (Dechow, 1995) yang dapat juga melihat kualitas laba perusahaan. Pengukuran abnormal accrual dilakukan sebagai dasar manajemen laba yang dilakukan perusahaan. Abnormal (discretionary) accrual dihitung dengan mengurangi total accrual (TA) dan Non discretionary accrual (NDA). Selanjutnya abnormal accrual (AA) dapat dihitung.
Model Empiris
Model empiris berikut adalah model yang digunakan untuk mengetahui pengaruh persistensi laba, leverage, ukuran perusahaan, dan kualitas akrual terhadap earning response coefficient. Model yang digunakan merupakan model regresi linier berganda. Model ini digunakan untuk masing-masing sampel perusahaan Asia dan Eropa.
ERCjt = a + b1PELjt + b2LEVjt + b3SIZEjt + b4AAjt + e
Keterangan:
ERCjt Earnings Response Coefficient untuk perusahaan j tahun t.
PELjt Persistensi laba untuk perusahaan j tahun t.
LEVjt Leverage untuk perusahaan j tahun t.
SIZEjt Ukuran perusahaan untuk perusahaan j tahun t.
AAjt Kualitas akrual untuk perusahaan j tahun t.
b1,b2, b3, b4 Nilai Koefisien regresi
e error
- IV. HASIL PENELITIAN
Tabel berikut ini hasil pengujian regresi linier berganda terhadap variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini untuk membuktikan secara empiris Hipotesis 1 hingga Hipotesis 4 yang diajukan oleh peneliti. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa dengan tingkat keyakinan 95% didapatkan hasil bahwa hasil signifikansi yang diperoleh dari uji regresi linier berganda antara earnings response coefficient (ERC) yang merupakan proksi kualitas laba dan persistensi laba (PEL) untuk perusahaan Asia sebesar 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.016 dan untuk sampel perusahaan Eropa yaitu sebesar 0.008 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.014. Berdasarkan hasil statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa persistensi laba berpengaruh positif terhadap kualitas laba baik di perusahaan Asia maupun di perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE yang berarti Hipotesis pertama (H1) terdukung.
Hal ini konsisten dengan penelitian terdahulu dari Kormendi dan Lipe (1987) dan Easton dan Zmijweski (1989) yang menunjukkan bahwa persistensi laba berpengaruh positif pada ERC. Semakin permanen perubahan laba dari waktu ke waktu maka semakin tinggi tingkat koefisien laba atau semakin tinggi pula kualitas labanya karena kondisi ini menunjukkan bahwa laba yang diperoleh perusahaan meningkat secara terus menerus.
Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Sampel Perusahaan Asia Versus Eropa yang Terdaftar di NYSE
|
ASIA
ERC = -0.020 + 0.016PEL + 0,049LEV + 0,006SIZE + 0,207AA
|
|
Variabel yang diuji
|
B
|
t
|
Sig.
|
Keterangan
|
|
Konstanta
|
-0.020
|
-1.250
|
0.213
|
|
|
Persistensi Laba (PEL)
|
0.016
|
3.628
|
0.000
|
Ada pengaruh (+)
|
|
Leverage (LEV)
|
0.049
|
5.174
|
0.000
|
Ada Pengaruh (+)
|
|
Ukuran Perusahaan (SIZE)
|
0.006
|
2.469
|
0.014
|
Ada pengaruh (+)
|
|
Kualitas akrual (AA)
|
0.207
|
4.176
|
0.000
|
Ada pengaruh (+)
|
|
EROPA
ERC = 0.082 + 0.014PEL + 0.041LEV – 0,013SIZE + 0,128AA
|
|
Variabel yang diuji
|
B
|
t
|
Sig.
|
Keterangan
|
|
Konstanta
|
0.082
|
3.118
|
0.002
|
|
|
Persistensi Laba (PEL)
|
0.014
|
2.685
|
0.008
|
Ada pengaruh (+)
|
|
Leverage (LEV)
|
0.041
|
1.991
|
0.048
|
Ada pengaruh (+)
|
|
Ukuran Perusahaan (SIZE)
|
-0.013
|
-3.550
|
0.001
|
Ada pengaruh (-)
|
|
Kualitas akrual (AA)
|
0.128
|
2.031
|
0.044
|
Ada pengaruh (+)
|
Variabel Dependen: Earnings Response Coefficient (ERC) dengan tingkat keyakinan 95%
Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa untuk pengujian Hipotesis kedua dengan tingkat keyakinan 95% didapatkan hasil bahwa hasil signifikansi yang diperoleh dari uji regresi linier berganda antara earnings response coefficient (ERC) yang merupakan proksi kualitas laba dan leverage (LEV) untuk sampel perusahaan Asia sebesar 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05dengan koefisien regresi sebesar 0.049 dan untuk sampel perusahaan Eropa yaitu sebesar 0.048 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.041. Berdasar hasil statistik tersebut maka dapat disimpulkan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap kualitas laba baik di perusahaan Asia maupun di perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE yang berarti Hipotesis kedua (H2) tidak terdukung.
Hasil ini tidak mendukung penelitian terdahulu dari Dhaliwal, dkk (1991) yang menunjukkan bahwa tingkat leverage berpengaruh negatif terhadap ERC. Berdasarkan hasil statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap ERC. Artinya semakin besar utang suatu perusahaan maka dapat mencerminkan laba yang berkualitas. Hal ini bisa disebabkan perusahaan yang memiliki banyak utang dapat menggunakan utang tersebut untuk mendanai kegiatan operasi perusahaannya dan mampu menghasilkan laba yang optimal. Hasil penelitian ini mendukung hasil dari Jang, dkk (2007) yang juga menemukan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap kualitas laba.
Hasil pengujian Hipotesis ketiga ditunjukkan bahwa dengan tingkat keyakinan sebesar 95% didapatkan bahwa hasil signifikansi yang diperoleh dari uji regresi linier berganda antara earnings response coefficient (ERC) yang merupakan proksi kualitas laba dan ukuran perusahaan (SIZE) untuk sampel perusahaan Asia adalah sebesar 0.014 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.006 dan untuk sampel perusahaan Eropa yaitu sebesar 0.001 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar -0.013.
Berdasarkan hasil statistik tersebut dapat disimpulkan ukuran perusahaan di Asia berpengaruh positif terhadap ERC baik untuk perusahaan Asia namun lain halnya dengan perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE. Ukuran perusahaan di Eropa berpengaruh negatif terhadap kualitas laba, yang berarti Hipotesis ketiga (H3) tidak terdukung. Walaupun pengaruh positif ukuran perusahaan di Asia ini mendukung penelitian sebelumnya dari Chaney dan Jeter (1990) yang menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap ERC namun tidak demikian untuk perusahaan Eropa. Pengaruh yang positif dicerminkan dari semakin besar ukuran perusahaan maka perusahaan tersebut akan mempunyai informasi yang lebih daripada perusahaan kecil sehingga investor akan menggunakan ukuran perusahaan sebagai salah satu faktor yang dapat digunakan dalam pembuatan keputusan investasi.
Namun penemuan pengaruh negatif ukuran perusahaan dengan kualitas laba mendukung penelitian dari Easton dan Zjimweski (1989) yang menemukan bahwa besaran perusahaan bukan variabel penjelas yang signifikan untuk ERC. Ukuran perusahaan di Eropa tidak berpengaruh positif terhadap ERC karena ukuran perusahaan tidak mencerminkan informasi, tetapi mencerminkan faktor lain seperti prospek perusahaan. Misalnya perusahaan kecil memiliki prospek perusahaan yang baik sehingga respon pasar lebih besar terhadap perusahaan kecil tersebut (Tiolemba dan Ekawati, 2008), maka pengaruh ukuran perusahaan terhadap ERC negatif.
Hasil pengujian Hipotesis keempat menunjukkan bahwa dengan signifikansi alpha 5% didapatkan hasil bahwa hasil signifikansi yang diperoleh dari uji regresi linier berganda antara earnings response coefficient (ERC) yang merupakan proksi kualitas laba dan kualitas akrual (AA) untuk sampel perusahaan Asia sebesar 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.207 dan untuk sampel perusahaan Eropa yaitu sebesar 0.044 lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0.05 dengan koefisien regresi sebesar 0.128.
Berdasarkan hasil statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa kualitas akrual berpengaruh positif terhadap ERC baik untuk perusahaan Asia dan perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE yang berarti Hipotesis keempat (H4) terdukung. Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya dari Feltham dan Pae (1999) dan Gagaring (2006). Kualitas akrual menghasilkan penyimpangan besar dalam pengakuan kas. Kondisi ini berarti laba tidak mencerminkan kenyataan karena adanya penyusunan laporan keuangan yang tidak sesuai dengan prinsip akuntansi atau dapat dikatakan bahwa kualitas akrual rendah. Sebaliknya, semakin dekat hubungan antara arus kas dan akrual atau penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip akuntansi, maka laba akan lebih mencerminkan kenyataan, maka semakin tinggi kualitas akrual dan semakin tinggi pula kualitas labanya. Hasil ini menunjukkan bahwa hubungan antara arus kas dan akrual atau penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip akuntansi, maka laba akan lebih mencerminkan kenyataan, maka semakin tinggi kualitas akrual dan labanya.
Analisis Tambahan
Ada empat faktor yang terbukti mempengaruhi secara positif ERC di perusahaan Asia yaitu persistensi laba, leverage, ukuran perusahaan, dan kualitas akrual. Namun, tidak demikian dengan perusahaan Eropa. Hanya ada tiga faktor yang mempengaruhi secara positif ERC yaitu persistensi laba, leverage, dan kualitas akrual; sedangkan ukuran perusahaan berpengaruh secara negatif. Ukuran perusahaan di Eropa tidak berpengaruh positif terhadap ERC karena ukuran perusahaan tidak mencerminkan informasi tetapi mencerminkan faktor lain seperti prospek perusahaan. Misalnya perusahaan kecil memiliki prospek perusahaan yang baik sehingga respon pasar lebih besar terhadap perusahaan kecil tersebut (Tiolemba dan Ekawati, 2008).
Perbedaan karakteristik yang mendasar baik dari segi perusahaan maupun negara dari perusahaan Asia dan Eropa yang terdaftar di NYSE ini juga berperan sebagai penentu perbedaan faktor yang mempengaruhi kualitas laba dari perusahaan Asia maupun Eropa ini. Karakteristik perusahaan mempunyai pengaruh terhadap ERC. Karakteristik perusahaan mencerminkan kualitas informasi akuntansi yang terkandung dalam pengungkapan informasi akuntansi yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya kekuatan investor dalam menanggapi informasi laba akuntansi. Karakteristik perusahaan dibagi menjadi tiga kategori yaitu variabel yang berkaitan dengan struktur, variabel yang berkaitan dengan kinerja, dan variabel yang berkaitan dengan pasar. Ukuran perusahaan merupakan variabel yang terkait dengan struktur. Hasil penelitian dari Susilawati (2008) menunjukkan bahwa karakteristik perusahaan yang terkait struktur dan pasar mempengaruhi ERC.
Apabila dilihat dari karakteristik perusahaannya, perusahaan Eropa cenderung lebih konservatif dibandingkan dengan perusahaan Asia, hal ini tercermin dari pengungkapan informasi akuntansi mereka. Pengungkapan informasi ini terkait dengan standar laporan keuangan Eropa yang secara wajib telah menggunakan IFRS, sedangkan Asia hanya baru beberapa negara saja yang menggunakan IFRS. IFRS merupakan standar pelaporan keuangan internasional yang cenderung lebih konservatif dari US-GAAP. Penggunaan metode fair value di dalam IFRS membuat standar ini dirasa lebih konservatif daripada US-GAAP. Walaupun pada kenyataannya, masih terdapat pertentangan mengenai konservatisme IFRS tersebut yang membuat reaksi investor berbeda (Armstrong dkk, 2010). Sedangkan dilihat dari karakteristik negaranya, Eropa dan Asia memiliki banyak perbedaan baik dari sistem hukum, budaya, sosial, ekonomi, dan sumber daya yang dimiliki. Karakteristik perusahaan maupun negara inilah yang akan membentuk kualitas perusahaan.
Gaio (2010) yang meneliti perbedaan kualitas laba di tiap-tiap negara di dunia, menemukan bahwa karakteristik perusahaan dan negara juga menentukan perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas laba tiap perusahaan di negara yang berbeda. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Holthausen (2003) yang menyatakan bahwa kualitas laba dapat sangat bervariasi tidak hanya antar negara, tetapi juga di seluruh perusahaan dalam suatu negara tersebut. Perbedaan ini ditunjukkan oleh kualitas perusahaan. Apabila kualitas perusahaan rendah maka angka akuntansi yang dihasilkan dapat dipoles tanpa diketahui dalam jangka waktu yang lama, bahkan di negara dengan lembaga hukum yang kuat dan pasar keuangan yang berkembang dengan baik. Apalagi dengan perusahaan yang berlokasi di negara dengan lembaga-lembaga hukum yang buruk, perusahaan tersebut memiliki mekanisme yang tersedia untuk berkomitmen keluar dari institusi negara miskin dan secara sukarela berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dari pelaporan keuangan. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa ukuran perusahaan bukan masalah yang utama tetapi kualitas perusahaan itu sendiri. Perusahaan yang berkualitas tinggi di negara manapun akan lebih disukai dan direspons secara positif oleh investor. Kualitas perusahaan tersebut tercermin juga pada kualitas labanya.
Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti bisa menyimpulkan bahwa perbedaan utama faktor yang mempengaruhi kualitas laba perusahaan Asia maupun Eropa yang terdaftar di NYSE disebabkan oleh kualitas perusahaan yang berbeda di antara kedua negara tersebut, walaupun karakteristik perusahaan maupun negara juga mengambil peran dalam menentukan perbedaan ini namun porsinya hanya sedikit.
V. SIMPULAN
Secara umum peneliti dapat menarik simpulan bahwa persistensi laba, leverage, ukuran perusahaan, dan kualitas akrual berpengaruh positif terhadap ERC di perusahaan Asia yang terdaftar di NYSE, namun tidak demikian dengan perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE. Persistensi laba, leverage, dan kualitas akrual berpengaruh positif terhadap ERC di perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE namun ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap ERC di perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE. Analisis tambahan juga menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi ERC perusahaan Asia yang terdaftar di NYSE berbeda dengan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas laba perusahaan Eropa yang terdaftar di NYSE dan perbedaan tersebut disebabkan oleh kualitas perusahaan yang berbeda di antara kedua negara tersebut.
Penelitian yang dilakukan ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih terdapat beberapa keterbatasan. Keterbatasan yang pertama adalah kuantitas data penelitiannya. Data yang dapat diakses perusahaan Asia dan Eropa yang terdaftar di NYSE cukup terbatas dikarenakan data yang berhasil dikumpulkan hanya diunduh dari website www.nyse.com dan www.nasdaq.com. Kedua, jumlah sampel yang digunakan hanya terbatas pada perusahaan manufaktur saja, sehingga hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasi dengan jenis industri yang lain.
Berdasarkan hasil analisis dan keterbatasan di atas, maka peneliti membuka kesempatan untuk penelitian mendatang yang berkaitan dengan ERC. Kesempatan tersebut yaitu dengan memperpanjang perioda penelitian dan menambah jumlah sampel penelitian yaitu seluruh dunia. Penelitian berikutnya juga dapat menambah variabel lain yang dirasa dapat mempengaruhi ERC seperti faktor kualitas auditor, kebijakan dividen perusahaan, rasio keuangan perusahaan, pertumbuhan industri, dan lain-lain. Penelitian ini juga dapat dikembangkan dengan membandingkan antar industri baik yaitu industri manufaktur, industri perbankan, dan industri non-manufaktur; sehingga dapat dibandingkan kualitas laba per industri juga negaranya masing-masing. Selain itu, penelitian berikutnya juga dapat menggunakan ukuran lain selain Earnings Response Coefficient (ERC) untuk melihat kualitas laba seperti efek industri, legal origin, prediktabilitas laba, dan ukuran-ukuran yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, A. dan L. Hwang. 2000. “Country-specific Factors Related to Financial Reporting and The Value Relevance of Accounting Data”. Journal of Accounting Research 38: 1–21.
Armstrong, C. S., M. E. Barth, A. D. Jagolinzer, dan E. J. Riedl. 2010. “Market Reaction to the Adoption of IFRS in Europe”. The Accounting Review 85: 31-61.
Ball R. dan P. Brown. 1968. “An Empirical Evaluation of Accounting Income Numbers”. Journal of Accounting Research. 6 (Autumn): 159-178.
Ball, R., Kothari, S. dan Robin, A. 2000. “The Effect of International Institutional Factors on Properties of Accounting Earnings”. Journal of Accounting and Economics 29: 1–51.
Ball, R., A. Robin, dan J. Wu. 2003. “Incentives Versus Standards: Properties of Accounting Income In Four East Asian Countries”. Journal of Accounting and Economics 36: 235–270.
Ball, R. 2005. “International Financial Reporting Standards (IFRS): Pros and Cons for Investors.” Accounting and Business Research, International Accounting Policy Forum: 5-27.
Biddle, G, G. Seow. 1991. “The Estimation and Determinants of Association Between Returns and Earnings: Evidence From Cross Industry Comparison”. Journal of Accounting, Auditing & Finance 6 (Spring): 183-232.
Boonlert-U-Thai, K., G. Meek dan S. Nabar. 2006. “Earnings Attributes And Investor-Protection: International Evidence”. The International Journal Of Accounting 41: 327–357.
Bushman, R. dan J. Piotroski. 2006. “Financial Reporting Incentives For Conservative Accounting: The Influence Of Legal And Political Institutions. Journal of Accounting and Economics, 42: 107–148.
Candrarin, G. 2001. “Laba (Rugi) Selisih Kurs Sebagai Salah Satu Faktor yang Mempengaruhi Koefisien Respon Laba Akuntansi: Bukti Empiris dari Pasar Modal Indonesia”. Yogyakarta: Disertasi Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
Candrarin, G. 2003. “The Impact of Accounting Methods For Transaction Gains (Losses) on The Earnings Response Coefficient: The Indonesian Case”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 6 No.3 September: 217-231.
Chaney, P. K. dan D.C. Jater. 1990. “The Effect of Size on the Magnitude of Long-Window Earnings Response Coefficients”. Contemporary Accounting Research Vol. 8 No. 2: 540-560.
Cho, J. Y. dan K. Jung. 1991. “Earnings Response Coeficients: A Sysntesis of Theory and Empirical Evidence”. Journal of Accounting Literature 10: 85-116.
Collins, D. W. dan S. P. Khotari. 1989. “An Analysis of Intemporal and cross sectional Detyerminants of Earnings Response Coefficient”. Journal of Accounting and Economics 11: 143-182.
Dechow P. M dan I. D. Dichev. 2002. “The Quality of Accruals and Earnings: The Role of Accrual Estimation Errors”, The Accounting Review, Vol. 77: 35–59.
DeFond, M. L. dan J. Jiambalvo. 1994. “Debt Convenant Violation and Manipulation of Accruals”. Journal of Accounting&Ecconomics 17: 145-176.
Dewi, A. A. A. R. 2003. “Pengaruh Konservatisma Laporan Keuangan Terhadap ERC”. Yogyakarta: Tesis Program Studi Akuntansi Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Dhaliwal, D. S. dan N. L. Farger. 1991. “The Association Between Unexpected Earnings and Abnormal Security Returns In The Presence of financial Leverage”. Contemporary Accounting Research 8: 20-41.
Doidge, C., G. Karolyi. dan R. Stulz. 2004. “Why Are Foreign Firms Listed In The U.S. Worth More?”. Journal of Financial Economics 71: 205–238.
Donnelly, R. 2002. “Earnings Persistence, Losses and the Estimation of Earnings Response Coefficient”. ABACUS, Vol. 38 No. 1.
Easton, P. D. dan M. E. Zmijweski.1989. “Cross-Sectional Variation In The Stock Market Response To Accounting Earnings Announcements”. Journal Of Accounting And Economics (July): 117-141.
Fan, J. dan T. Wong. 2002. “Corporate Ownership Structure And The Informativeness Of Accounting Earnings In East Asia.” Journal of Accounting and Economics 33: 401–425.
FASB. 1985. Account Standards, Original Pronouncement: As of Juny. New York: Mc.Grawhill.
Feltham, G. A. dan P. Jaehan. 1999. “Analysis of the Impact of Accounting Accruals on Earnings Uncertainty and Response Coefficient”. Journal of Accounting, Auditing & Finance: 199-220.
Gaio, C. 2010. “The Relative Importance of firm and country Characteristics for Earnings Quality Around the World”. European Accounting Review Vol. 19, No. 4, 693-738.
Gigler, F. B dan T. Hemmer. 2001. “Conservatism, Optimal Disclosure Policy, and the Timeliness of Financial Reporting”. The Accounting Review 76 No. 4 (October): 471-493.
Giner, B. dan W. Rees. 2001. “On The Asymmetric Recognition Of Good And Bad News In France, Germany And United Kingdom”. Journal of Business Finance & Accounting 28: 1285–1330.
Ghosh, A., D. Moon. 2010. “Corporate Debt Financing and earnings Quality”. Journal of Business Finance & Accounting, 37(5) & (6): 538-559.
Gujarati, D. 2009. Basic Econometrics. New York: Mc Graw Hill.
Gudono. 2011. Analisis Data Multivariat. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.
Hartono, J. 2010. Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-pengalaman. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.
Holthausen. R dan R. Verreechia. 1988. “The Effect of Sequential Information Release on The Variance of price Changes in an Intemporal Multi Assets Market”. Journal of Accounting Research 26 (Spring).
Holthausen, R. 2003. “Testing the Relative Power of Accounting Standards versus Incentives and Other Institutional Features to Influence the Outcome of Financial Reporting in an International Setting”. Journal of Accounting and Economics 36: 271–283.
Jang, L., B. Sugiarto, dan D. Siagian. 2007. “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Laba pada Perusahaan Manufaktur di BEJ”. Akuntabilitas Vol. 6 No.2 (Maret): 142-149.
Khotari, S. P. 2001. “Capital Market Research in Accounting”. Journal of Accounting and Economics 31: 105–231.
Kross, W. dan D. Schroeder. 1990. “An Investigation of Seasonality in Stock Price Response to Quarterly Earning Announcement”. Journal of Business Finance and Accounting (Winter): 649-675.
Lang, M., J. Raedy, dan M. Yetman. 2003. “How Representative are Cross-Listed Firms? An Analysis of Firms Performance and Accounting Quality”, Journal of Accounting Research 41: 363-386.
Leuz, C., D. Nanda. and P. Wysocki. 2003. “Investor Protection and Earnings Management: an International Comparison”. Journal of Financial Economics 69: 505–527.
Lipe, R.C. 1990. “The Relation Between Stock Return, Accounting Earnings and Alternative Information”. The Accounting Review (January): 49-71.
McMullen, D.A., 1996,” Audit Committee Performance: An Investigation of the Consequences Associated with Audit Committes,” Auditing: A Journal of Practice & Theory, Vol. 15, No. 1, 88-103.
Raonic, I., S. McLeay. dan I. Asimakopoulos. 2004. “The Timeliness of Income Recognition by European Companies: an Analysis of Institutional and Market Complexity”. Journal of Business Finance & Accounting 31: 115–148.
Scott, W. R. 2003. Financial Accounting Theory 3th Edition. Canada: Prentice Hall Inc, Ontario.
Skinner, D. J. dan E. Soltes. 2011. “What Do Dividends Tell Us About Earnings Quality?”. Review Accounting Studies 16:1-28.
Sun, J., Steven F. C. dan D. Emanuel. 2011. “How Would the Mandatory Adoption of IFRS Affect the Earnings Quality of U.S. Firms? Evidence from Cross-Listed Firms in the U.S, Accounting Horizonz 25 (4): 837-860.
Susilawati, C. D. 2008. “Faktor-faktor Penentu ERC”. Jurnal Ilmiah Akuntansi 7 (2): 146-161.
Tiolemba, N. dan E.Ekawati. 2008. “Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Koefisien Respon Laba pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEJ”. Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan 4 (2): 100-115.